Artikel

Bahaya Makan Tanpa Sadar (Mindless Eating) pada Anak | Sudirman Anwar



Beberapa waktu lalu, saya melihat seorang anak kecil makan sambil menatap layar. Tangan kanan memegang sendok, tangan kiri memegang gadget. Makanannya habis. Tapi kalau ditanya, “Tadi makan apa?” dia mungkin tidak benar-benar ingat.

Di sinilah kita perlu mulai waspada. 

Fenomena Ini disebut mindless eating makan tanpa kesadaran. Dan pada anak, dampaknya bisa jauh lebih serius daripada yang kita kira.

Anak sebenarnya lahir dengan sistem alami yang sangat cerdas. Mereka tahu kapan lapar, kapan kenyang. Tubuh mereka memberi sinyal dengan jujur. Tapi ketika makan mulai bercampur dengan distraksi TV, gadget, atau kebiasaan disuapi sambil dialihkan perlahan sistem itu terganggu.
Anak tidak lagi makan karena lapar.
Ia makan karena kebiasaan.

Dalam jangka pendek, mungkin terlihat biasa. Anak tetap makan, orang tua merasa tenang. Tapi dalam jangka panjang, ada perubahan yang tidak terlihat.

Pertama, anak kehilangan kemampuan mengenali rasa lapar dan kenyang. Ini penting. Karena jika sinyal ini hilang, anak bisa tumbuh menjadi individu yang makan bukan berdasarkan kebutuhan, tapi dorongan. Ini berkaitan langsung dengan risiko overeating dan obesitas.

Kedua, terjadi gangguan pada fokus dan perhatian. Otak anak yang terbiasa makan sambil melihat layar akan kesulitan memisahkan aktivitas. Makan tidak lagi menjadi aktivitas sadar, tapi otomatis. Dalam jangka panjang, ini bisa berdampak pada kemampuan konsentrasi.

Ketiga, muncul hubungan emosional yang tidak sehat dengan makanan. Anak bisa mulai mengaitkan makan dengan hiburan. Jika bosan makan. Jika sedih makan. Jika tidak ada aktivitas makan. Ini adalah pintu awal menuju emotional eating di masa dewasa.

Yang jarang disadari, kebiasaan ini bukan salah anak. Ini terbentuk dari lingkungan. Dari cara kita sebagai orang dewasa memperkenalkan makan.

Kadang kita memberi makan sambil mengalihkan perhatian agar anak mau makan. Praktis, iya. Tapi tanpa sadar, kita sedang mengajarkan anak untuk tidak hadir saat makan.

Padahal makan adalah momen penting.Bukan hanya untuk tubuh, tapi juga untuk pembentukan kebiasaan hidup.

Solusinya bukan rumit. Mulai dari hal sederhana:
ajak anak makan tanpa gadget. Biarkan mereka merasakan makanan.

Ajak bicara ringan. Biarkan mereka berhenti saat kenyang, meski piring belum habis.
Ini bukan soal disiplin keras. Ini soal membangun kesadaran sejak dini.

Karena anak yang belajar makan dengan sadar hari ini, akan tumbuh menjadi orang dewasa yang mampu mengelola dirinya dengan lebih baik.

Dan mungkin, dari hal kecil seperti cara makan,
kita sedang membentuk generasi yang lebih sehat
bukan hanya fisiknya, tapi juga cara berpikirnya
Sudirman Anwar

Sudirman Anwar

Dosen, Praktisi Hipnoterapi, Konsultan Pendidikan, dan Pengembang SDM. Berkomitmen untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam bidang pendidikan, hipnoterapi, dan pengembangan sumber daya manusia.

← Kembali